Penyambutan HUT RI ke-64 di RT–08 pada minggu malam, 16 Agustus 2009, yang baru lalu terasa lain, lebih meriah dan bermakna… Meski tanpa hiburan musik solo organ seperti tahun lalu, acara yang digelar di Jl. Puri Gg. V tetap berlangsung meriah dan hampir semua warga yang hadir menikmati acaranya dan menghayati betul arti kemerdekaan serta pentingnya kebersamaan.

Nyanyi sambil bergandenganBagaimana tidak…, acara yang dibuka dengan menyanyikan bersama lagu Indonesia Raya, yang dipandu oleh Ibu Amrul, berlangsung sangat khidmat dan terasa berbeda dengan penyambutan HUT RI pada tahun-tahun lalu. Bahkan 2 lagu berikutnya, masih dipandu oleh Ibu Amrul, yaitu Satu Nusa Satu Bangsa dan Hari Merdeka berlangsung lebih gayeng dan seru karena seluruh warga (Bapak dan Ibu, Remaja dan Anak-Anak) saling bergandengan tangan membentuk sebuah lingkaran besar. Sebagai pengelola Blog RW–04 (https://rw4padangsari.wordpress.com/) yang kala itu hadir dalam acara tersebut seperti mendapatkan sebuah surprise simbol kesatuan dan kebersamaan telah tercipta di RT–08. Surprise yang lain terlihat ketika acara doa bersama yang dipimping Bp. Carli, hening dan sangat khidmat. Ada apa sebenarnya…?

Sebagai sebuah tradisi, acara malam tirakatan 17–an biasa dilakukan di manapun di seluruh pelosok negeri. Tapi acara yang digelar di RT–08/RW–04 Kelurahan Padangsari Kecamatan Banyumanik Semarang ini sangat berbeda. Mereka diliputi tanda tanya besar ”siapakah Ketua RT baru yang akan menggantikan Ketua RT lama periode 2006 – 2009 ?” Menurut panitia, bila periode kepengurusan RT lama telah berakhir, dalam memperingati 17–an biasanya terdapat acara serah terima jabatan ke pengurus RT baru dan dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng. Lha… ini kepengurusan RT yang baru belum ada dan terbentuk, lalu mau ”diserahkan” ke siapa ? Dan mengapa acara peringatan 17–an ini tetap digelar dengan meriah…, malah ada tumpengnya juga ?

Sudah 2 periode ini di RT–08/RW–04 Kelurahan Padangsari menggunakan cara pemungutan suara ”tertutup dan rahasia” seluruh warga yang berhak memilih untuk menentukan nama calon ketua RT, dengan cara mencontreng, yang daftar nama-nama calonnya telah ditetapkan oleh KPU RT. Namun kali ini calon yang terpilih dengan suara terbanyak ternyata menolak duduk sebagai Ketua RT karena kesibukan pekerjaannya yang menuntut harus sering ke luar kota/ke luar Jawa, sehingga Beliau merasa tugas pengabdian dalam melayani warga akan menjadi tidak optimal. Pemilihan ketua RT–08 pengganti juga telah dilakukan tetapi tidak ada yang mau/bersedia…, alias deadlock. Sebuah fenomena yang sangat biasa terjadi di manapun ! Ketua RT yang lama Bp. Bowo, periode 2006 – 2009, dalam sepucuk suratnya yang disampaikan kepada seluruh warga mengatakan ”Saya selalu percaya jika seseorang atau siapapun berusaha mencari jalan keluar dari suatu masalah Tuhan pasti memberi solusinya, demikian juga di RT kita”. Tetapi hingga awal berlangsungnya acara malam tirakatan masih belum terlihat tanda-tanda ”siapakah yang akan menggantikan Bp. Bowo sebagai ketua RT–08 yang    baru ?”.

Ternyata panitia telah mempersiapkan sebuah kejutan. Di tengah-tengah berlangsungnya acara Bp. Sugiyanto (salah seorang kandidat dengan Penyerahan tumpeng RT lama ke RT baruperolehan 6 suara) menyatakan siap menjadi ketua RT–08 yang baru. Beliau juga mengajukan sebuah usulan periode kepengurusan RT baru yaitu hanya ”satu tahun” dan format pemilihan ketua RT berikutnya yaitu dengan cara ”dikopyok”. Seluruh warga menyetujui dengan antusias dan tepuk tanganpun bergemuruh di malam yang dingin dan penuh makna itu. Bp. Bowo yang hadir dengan pakaian khas Ngayogjokarto lengkap dengan blangkonnya nampak berkali-kali mengucap syukur, ternyata Tuhan benar-benar telah memberikan jalan keluarnya…!

Tapi semua itu masih juga belum menjawab ”mengapa acara malam tirakatan itu tetap berlangsung meriah dan penuh semangat kebersamaan dan persatuan ?” Beberapa warga yang sempat kami wawancarai mengatakan ”mengenang kemerdekaan yang telah diraih dengan susah payah oleh para pejuang kita adalah sangat penting dan tidak boleh dikalahkan oleh masalah ke RT-an yang jauh lebih kecil…!. Tentu kami membutuhkan pengurus RT yang baru dan suatu saat kamipun akan menjadi pengurus juga tapi memperingati hari kemerdekaan adalah suatu keharusan”, begitu kata mereka..! Lalu mengapa ketika menyanyikan lagu Satu Nusa Satu Bangsa dan Hari Merdeka kok harus bergandengan tangan segala…, apa tahun lalu juga demikian ? Seorang Ibu dan Remaja yang berhasil kami wawancarai mengatakan ”di saat Indonesia sedang dilanda berbagai krisis dan masih banyaknya kasus-kasus korupsi, memupuk kebersamaan dan kesatuan warga di tingkat RT adalah sangat penting sebagai upaya membentuk komunitas yang rukun dan saling membantu satu sama lain. Dan bergandengan tangan sambil menyanyikan lagu kebangsaan ini bagi mereka sangatlah tepat untuk melambangkan kebersamaan dan persatuan tersebut.” Wow, semangat yang luar biasa. Sejauh ini belum pernah penulis saksikan fenomena ini, sungguh menakjubkan..!

RT–08 ini memang unik. Dengan jumlah KK paling banyak yaitu 44 KK, dan warganya tersebar di 4 gang yaitu Jl. Puri Gg. IV – Gg. VII, maka RT–08 selain jumlah warganya paling banyak juga memiliki teritori yang paling luas di RW–04 Kelurahan Padangsari. RT–08 juga tercatat sebagai pembayar PBB setiap tahun paling banyak ke 2 setelah RT–01 yaitu Rp. 2.357.699,- pada tahun 2007, sementara RT–01 sebesar Rp. 2.473.868,-. Sebagai RT yang memiliki warga paling banyak sudah tentu terkadang timbul masalah-masalah kecil, tapi sebagian besar warga menganggap itu semua hanyalah merupakan dinamika kehidupan saja. Prinsipnya tidak ada masalah diantara kita semua, yang ada barangkali hanyalah kesalahpahaman saja dan kesalahpahaman selalu bisa diatasi dengan kekompakan, kebersamaan dan persatuan diantara seluruh warga. Acara peringatan 17–an yang selalu dirayakan setiap tahun adalah salah satu buktinya, dan kebesaran hati serta lapang dada seluruh warga ini semakin dibuktikan pada peringatan kali ini meski sempat timbul ketidakpastian siapakah pengurus RT yang akan datang…? Bravo panitia HUT Kemerdekaan RI ke–64 dan bravo RT–08, we love you full…!