Penyambutan HUT RI ke-64 di RT–08 pada minggu malam, 16 Agustus 2009, yang baru lalu terasa lain, lebih meriah dan bermakna… Meski tanpa hiburan musik solo organ seperti tahun lalu, acara yang digelar di Jl. Puri Gg. V tetap berlangsung meriah dan hampir semua warga yang hadir menikmati acaranya dan menghayati betul arti kemerdekaan serta pentingnya kebersamaan.

Nyanyi sambil bergandenganBagaimana tidak…, acara yang dibuka dengan menyanyikan bersama lagu Indonesia Raya, yang dipandu oleh Ibu Amrul, berlangsung sangat khidmat dan terasa berbeda dengan penyambutan HUT RI pada tahun-tahun lalu. Bahkan 2 lagu berikutnya, masih dipandu oleh Ibu Amrul, yaitu Satu Nusa Satu Bangsa dan Hari Merdeka berlangsung lebih gayeng dan seru karena seluruh warga (Bapak dan Ibu, Remaja dan Anak-Anak) saling bergandengan tangan membentuk sebuah lingkaran besar. Sebagai pengelola Blog RW–04 (https://rw4padangsari.wordpress.com/) yang kala itu hadir dalam acara tersebut seperti mendapatkan sebuah surprise simbol kesatuan dan kebersamaan telah tercipta di RT–08. Surprise yang lain terlihat ketika acara doa bersama yang dipimping Bp. Carli, hening dan sangat khidmat. Ada apa sebenarnya…?

Sebagai sebuah tradisi, acara malam tirakatan 17–an biasa dilakukan di manapun di seluruh pelosok negeri. Tapi acara yang digelar di RT–08/RW–04 Kelurahan Padangsari Kecamatan Banyumanik Semarang ini sangat berbeda. Mereka diliputi tanda tanya besar ”siapakah Ketua RT baru yang akan menggantikan Ketua RT lama periode 2006 – 2009 ?” Menurut panitia, bila periode kepengurusan RT lama telah berakhir, dalam memperingati 17–an biasanya terdapat acara serah terima jabatan ke pengurus RT baru dan dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng. Lha… ini kepengurusan RT yang baru belum ada dan terbentuk, lalu mau ”diserahkan” ke siapa ? Dan mengapa acara peringatan 17–an ini tetap digelar dengan meriah…, malah ada tumpengnya juga ?

Sudah 2 periode ini di RT–08/RW–04 Kelurahan Padangsari menggunakan cara pemungutan suara ”tertutup dan rahasia” seluruh warga yang berhak memilih untuk menentukan nama calon ketua RT, dengan cara mencontreng, yang daftar nama-nama calonnya telah ditetapkan oleh KPU RT. Namun kali ini calon yang terpilih dengan suara terbanyak ternyata menolak duduk sebagai Ketua RT karena kesibukan pekerjaannya yang menuntut harus sering ke luar kota/ke luar Jawa, sehingga Beliau merasa tugas pengabdian dalam melayani warga akan menjadi tidak optimal. Pemilihan ketua RT–08 pengganti juga telah dilakukan tetapi tidak ada yang mau/bersedia…, alias deadlock. Sebuah fenomena yang sangat biasa terjadi di manapun ! Ketua RT yang lama Bp. Bowo, periode 2006 – 2009, dalam sepucuk suratnya yang disampaikan kepada seluruh warga mengatakan ”Saya selalu percaya jika seseorang atau siapapun berusaha mencari jalan keluar dari suatu masalah Tuhan pasti memberi solusinya, demikian juga di RT kita”. Tetapi hingga awal berlangsungnya acara malam tirakatan masih belum terlihat tanda-tanda ”siapakah yang akan menggantikan Bp. Bowo sebagai ketua RT–08 yang    baru ?”.

Ternyata panitia telah mempersiapkan sebuah kejutan. Di tengah-tengah berlangsungnya acara Bp. Sugiyanto (salah seorang kandidat dengan Penyerahan tumpeng RT lama ke RT baruperolehan 6 suara) menyatakan siap menjadi ketua RT–08 yang baru. Beliau juga mengajukan sebuah usulan periode kepengurusan RT baru yaitu hanya ”satu tahun” dan format pemilihan ketua RT berikutnya yaitu dengan cara ”dikopyok”. Seluruh warga menyetujui dengan antusias dan tepuk tanganpun bergemuruh di malam yang dingin dan penuh makna itu. Bp. Bowo yang hadir dengan pakaian khas Ngayogjokarto lengkap dengan blangkonnya nampak berkali-kali mengucap syukur, ternyata Tuhan benar-benar telah memberikan jalan keluarnya…!

Tapi semua itu masih juga belum menjawab ”mengapa acara malam tirakatan itu tetap berlangsung meriah dan penuh semangat kebersamaan dan persatuan ?” Beberapa warga yang sempat kami wawancarai mengatakan ”mengenang kemerdekaan yang telah diraih dengan susah payah oleh para pejuang kita adalah sangat penting dan tidak boleh dikalahkan oleh masalah ke RT-an yang jauh lebih kecil…!. Tentu kami membutuhkan pengurus RT yang baru dan suatu saat kamipun akan menjadi pengurus juga tapi memperingati hari kemerdekaan adalah suatu keharusan”, begitu kata mereka..! Lalu mengapa ketika menyanyikan lagu Satu Nusa Satu Bangsa dan Hari Merdeka kok harus bergandengan tangan segala…, apa tahun lalu juga demikian ? Seorang Ibu dan Remaja yang berhasil kami wawancarai mengatakan ”di saat Indonesia sedang dilanda berbagai krisis dan masih banyaknya kasus-kasus korupsi, memupuk kebersamaan dan kesatuan warga di tingkat RT adalah sangat penting sebagai upaya membentuk komunitas yang rukun dan saling membantu satu sama lain. Dan bergandengan tangan sambil menyanyikan lagu kebangsaan ini bagi mereka sangatlah tepat untuk melambangkan kebersamaan dan persatuan tersebut.” Wow, semangat yang luar biasa. Sejauh ini belum pernah penulis saksikan fenomena ini, sungguh menakjubkan..!

RT–08 ini memang unik. Dengan jumlah KK paling banyak yaitu 44 KK, dan warganya tersebar di 4 gang yaitu Jl. Puri Gg. IV – Gg. VII, maka RT–08 selain jumlah warganya paling banyak juga memiliki teritori yang paling luas di RW–04 Kelurahan Padangsari. RT–08 juga tercatat sebagai pembayar PBB setiap tahun paling banyak ke 2 setelah RT–01 yaitu Rp. 2.357.699,- pada tahun 2007, sementara RT–01 sebesar Rp. 2.473.868,-. Sebagai RT yang memiliki warga paling banyak sudah tentu terkadang timbul masalah-masalah kecil, tapi sebagian besar warga menganggap itu semua hanyalah merupakan dinamika kehidupan saja. Prinsipnya tidak ada masalah diantara kita semua, yang ada barangkali hanyalah kesalahpahaman saja dan kesalahpahaman selalu bisa diatasi dengan kekompakan, kebersamaan dan persatuan diantara seluruh warga. Acara peringatan 17–an yang selalu dirayakan setiap tahun adalah salah satu buktinya, dan kebesaran hati serta lapang dada seluruh warga ini semakin dibuktikan pada peringatan kali ini meski sempat timbul ketidakpastian siapakah pengurus RT yang akan datang…? Bravo panitia HUT Kemerdekaan RI ke–64 dan bravo RT–08, we love you full…!

(more…)

Tahun Masehi 2008 dan Tahun Islam 1429H baru saja berlalu. Banyak cara dilakukan masyarakat dalam menyambut pergantian tahun tersebut. Kegiatan tersebut biasanya tidak terlepas dari upaya introspeksi dan harapan-harapan. Introspeksi dilakukan tentunya berkaitan dengan perbuatan-perbuatan di tahun lalu, apakah perbuatannya itu telah bermanfaat bagi dirinya sendiri dan masyarakat atau justru merugikan orang lain, hal ini umumnya dilakukan oleh masyarakat Jawa Tengah pada saat malam 1 suro. Namun tidak sedikit pula masyarakat dalam merayakan tahun baru hanya bertujuan ingin bersenang-senang, seperti selalu dilakukan oleh khususnya kaum muda ketika menyambut pergantian tahun baru masehi.

Selamat Tahun BaruDi tahun 2009 ini, seperti diramalkan banyak orang, kondisi ekonomi negara kita dan hampir di seluruh belahan dunia masih belum membaik. PHK dan perusahaan yang collapse masih akan banyak terjadi. Tentu hal ini berarti peluang kerja yang ada semakin kecil, persaingan kerja semakin besar, dan pengangguran semakin meningkat. Masalah bencana juga diramalkan akan banyak terjadi di tahun 2009 ini. Gempa di Irian dengan kekuatan 7.8 SR merupakan indikasi awal terjadinya bencana di beberapa daerah di Indonesia. Ya…, pertambahan tahun berarti bertambah pula usia bumi dan usia para penghuninya. Para ahli Cuaca mengatakan “semakin tua usia bumi semakin banyak pula bencana yang terjadi”.

Analisis saya, berdasar hasil-hasil penelitian para ahli cuaca dan para ahli perminyakan dunia, masalah yang akan dihadapi masyarakat dunia pada 2 dekade yang akan datang adalah kelangkaan energi dan perubahan iklim secara drastis. Tanda-tandanya sudah kelihatan di tahun 2008 yang lalu. Hal ini telah saya presentasikan di hadapan warga RT-08/RW-04 Kelurahan Padangsari (Kecamatan Banyumanik-Semarang) dalam acara memperingati 17 Agustus 2008 yang lalu. Jika ditambah dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh bangsa kita sendiri (masalah Politik, Ekonomi, Pendidikan, Pengangguran dan lain-lain) sudah tentu masyarakat Indonesia akan menghadapi persoalan besar di tahun-tahun yang akan datang.

Selamat tahun baru. Menyambut tahun baru harus dengan semangat baru. Semangat dalam memperbaiki sikap dan perilaku untuk menjadi lebih baik, semangat untuk berjuang dalam memerangi kebodohan dan ketertinggalan, semangat membangun dengan lebih memperhatikan keseimbangan dan kelestarian alam, semangat untuk berbagi kepada mereka yang kekurangan, dan semangat untuk maju bersama dalam membangun masyarakat di tingkat-tingkat RT; RW dan pedesaan. Mari kita tanamkan jargon dalam diri kita masing-masing ”Kunci kemajuan adalah semangat dan kebersamaan”, karena hanya dengan semangat dan kebersamaan ini segala persoalan yang dihadapi bangsa kita dapat dipecahkan secara lebih mudah dan cepat. Selamat tahun baru, semoga sukses.

Kita yang berada di Indonesia, saat ini paling tidak mengenal 4 macam tahun yang berbeda-beda, misalnya Tahun Masehi, Tahun Hijriah, Tahun Jawa, dan Tahun Imlek. Tahun Masehi didasarkan atas perputaran bumi mengitari matahari yang dikenal dengan Tahun Matahari (dan berkaitan dengan musim), sementara Tahun Hijriyah dan Tahun Jawa didasarkan pada perputaran bulan mengelilingi bumi dan tidak berkaitan dengan musim. Tahun yang berdasarkan perputaran matahari dan bulan memiliki perbedaan jumlah hari setiap tahunnya. Untuk Tahun Matahari setiap tahunnya berjumlah 365/366 hari, sementara untuk Tahun Bulan per-tahunnya memiliki 354 hari.

Tahun Masehi mengawali tahun barunya setiap tanggal 1 Januari sementara Tahun Hijriyah mengawali tahun barunya pada tanggal 1 Muharram dan Tahun Jawa pada tanggal 1 Suro. Tahun Jawa memiliki kesamaan dengan Tahun Hijriyah terutama dalam mengawali tanggal dan bulannya. Perbedaannya terletak pada istilah penyebutan nama bulan. Tahun Hijriyah menyebut bulan Muharram atau Asyuro, sementara Tahun Jawa menyebut bulan Suro. Kesamaan keduanya ternyata dapat ditelusuri dari sejarah kerajaan Mataram (Islam) di bawah kekuasaan pemerintahan Sultan Agung (1613-1645 Masehi).

Ketika itu di masyarakat Jawa, tahun yang menjadi pegangan masyarakat pada zamannya adalah Tahun Saka yang berdasarkan peredaran matahari. Sementara bagi umat Islam sendiri menggunakan Tahun Hijriyah. Pada waktu Sultan Agung berkuasa, Islam telah diakui menjadi agama di lingkungan istana Mataram (Islam). Maka untuk tetap meneruskan penanggalan Tahun Saka yang berasal dari leluhurnya dan ingin mengikuti penanggalan Tahun Hijriyah, maka Sultan Agung membuat kebijakan mengubah Tahun Saka menjadi Tahun Jawa. Maka ketika tahun 1555 Saka, oleh Sultan Agung diganti menjadi tahun 1555 Jawa dan berlaku untuk masyarakat pengikutnya. Sementara penetapan tanggal dan bulannya disamakan dengan tanggal dan bulan Tahun Hijriyah. Berarti tanggal 1 Suro 1555 Tahun Jawa sama dengan tanggal 1 Muharram 1043 Hijriyah dan bertepatan pula dengan tanggal 8 Juli 1633 Masehi.

Nama-nama bulan pada Tahun Jawapun dibuat lain dan berbeda dengan nama-nama Tahun Hijriyah disesuikan dengan ucapan masyarakat Jawa. Seperti :

tabel-suro

Pada umumnya masyarakat menjelang tahun baru, misalnya Tahun Baru Masehi, banyak melakukan kegiatan untuk menyambutnya. Kegiatan tersebut biasanya tidak terlepas dari upaya introspeksi dan harapan-harapan. Introspeksi dilakukan tentunya berkaitan dengan perbuatan-perbuatan di tahun lalu, apakah perbuatannya itu telah bermanfaat bagi dirinya sendiri dan masyarakat atau justru merugikan orang lain. Jika masih banyak merugikan orang lain, tentunya akan diperbaiki pada tahun baru ini, itulah harapan-harapannya. Namun tidak sedikit pula masyarakat yang merayakan tahun baru hanya bertujuan ingin bersenang-senang. Memang akhirnya harus dikembalikan kepada masyarakat sendiri sebagai pencipta budaya untuk memahami sebuah arti tahun baru. Begitu juga ketika menjelang Tahun Baru Jawa, tentunya masyarakat Jawapun ingin mempunyai harapan-harapan yang lebih baik di tahun baru yang akan datang dan tentunya juga melakukan introspeksi terhadap tindakan di masa silam. Kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan bulan Suro, baik menjelang maupun selama bulan Suro jelas tidak terlepas dari introspeksi dan harapan-harapan itu. Namun dalam perkembangannyapun bisa saja mengalami pergeseran persepsi.

Bagi masyarakat Jawa, kegiatan-kegiatan menyambut bulan Suro sudah berlangsung sejak berabad-abad yang lalu. Kegiatan-kegiatan yang berulang-ulang tersebut akhirnya menjadi kebiasaan dan menjadi tradisi yang setiap tahun dilakukan. Itulah yang kemudian disebut budaya dan menjadi ciri khas bagi komunitasnya. Namun kalau dicermati, tradisi di bulan Suro yang dilakukan oleh masyarakat Jawa adalah sebagai upaya untuk menemukan jati dirinya agar selalu tetap eling lan waspada. Eling artinya harus tetap ingat siapa dirinya dan dari mana sangkan paraning dumadi (asal mulanya), kedudukannya sebagai makhluk Tuhan, tugasnya sebagai khalifah manusia di bumi baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Waspada, artinya harus tetap cermat, terjaga, dan waspada terhadap segala godaan yang sifatnya menyesatkan. Karena sebenarnya godaan itu bisa menjauhkan diri dari sang Pencipta, sehingga dapat menjauhkan diri dalam mencapai manunggaling kawula gusti (bersatunya makhluk dan Khalik).

Bulan Suro sebagai awal tahun Jawa, bagi masyarakatnya juga disebut bulan yang sakral karena dianggap bulan yang suci, bulan untuk melakukan perenungan, bertafakur, berintrospeksi, serta mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Cara yang dilakukan biasanya disebut dengan laku, yaitu mengendalikan hawa nafsu dengan hati yang ikhlas untuk mustoko-maheso_suro1mencapai kebahagiaan dunia akhirat. Itulah esensi dari kegiatan budaya yang dilakukan masyarakat Jawa pada bulan Suro. Tentunya makna ini juga didapatkan ketika bulan Pasa (Ramadhan, Tahun Hijriyah), khususnya yang memeluk agama Islam. Laku yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa sebagai media introspeksi biasanya banyak caranya. Ada yang melakukan laku dengan cara nenepi (meditasi untuk merenung diri) di tempat-tempat sakral seperti di puncak gunung; tepi laut; makam; gua; pohon tua; dan sebagainya, dan ada juga yang melakukan dengan cara lek-lekan (berjaga hingga pagi hari) di tempat-tempat umum seperti di tugu Yogya; Pantai Parangkusumo; dan sebagainya. Sebagian masyarakat Jawa lainnya juga melakukan cara sendiri yaitu mengelilingi beteng kraton sambil membisu.

Begitu pula untuk menghormati bulan yang sakral ini, sebagian masyarakat Jawa melakukan tradisi syukuran kepada Tuhan pemberi rejeki, yaitu dengan cara melakukan labuhan dan sedekahan di pantai, labuhan di puncak gunung, merti dusun atau suran, atau lainnya. Karena bulan Suro juga dianggap sebagai bulan yang baik untuk mensucikan diri, maka sebagian masyarakat lain melakukan kegiatan pembersihan barang-barang berharga, seperti jamasan keris pusaka, jamasan kereta, pengurasan enceh di makam Imogiri, dan sebagainya. Ada juga yang melakukan kegiatan sebagai rasa syukur atas keberhasilan di masa lalu dengan cara pentas wayang kulit, ketoprak, nini thowong, dan kesenian tradisional lainnya. Apapun yang dilakukan boleh saja terjadi asal esensinya adalah perenungan diri sendiri (introspeksi) sebagai hamba Tuhan. Namun akibat perkembangan zaman serta semakin heterogennya masyarakat suatu komunitas dan juga karena dampak dari berbagai kepentingan yang sangat kompleks, lambat laun banyak masyarakat terutama yang awam terhadap budaya tradisional tidak lagi mengetahui dengan jelas di balik makna asal tradisi budaya bulan Suro. Mereka umumnya hanya ikut-ikutan, seperti beramai-ramai menuju pantai, mendaki gunung, bercanda ria sambil mengelilingi beteng, berbuat kurang sopan di tempat-tempat keramat dan sebagainya. Maka tidak heran jika mereka menganggap bahwa bulan Suro tidak ada bedanya dengan bulan-bulan lainnya.

Di sisi lain, ternyata kesakralan bulan Suro membuat masyarakat Jawa sendiri enggan untuk melakukan kegiatan yang bersifat sakral, misalnya hajatan pernikahan. Hajatan pernikahan di bulan Suro sangat mereka hindari. Entah kepercayaan ini muncul sejak kapan, kita tidak tahu. Namun yang jelas sampai sekarangpun mayoritas masyarakat Jawa tidak berani menikahkan anak di bulan Suro. Ada sebagian masyarakat Jawa yang percaya dengan cerita Nyi Roro Kidul, penguasa laut selatan (Samudra Hindia). Konon ceritanya setiap bulan Suro Nyi Roro Kidul selalu punya hajatan atau mungkin menikahkan anaknya (tidak diketahui jumlah anaknya berapa) sehingga masyarakat Jawa yang punya gawe di bulan Suro ini diyakini penganten atau keluarganya tidak akan mengalami kebahagiaan atau selalu mengalami kesengsaraan, baik berupa tragedi cerai, gantung diri, meninggal, mengalami kecelakaan, atau lainnya. Entah kebenaran itu ada atau tidak, yang jelas masyarakat Jawa secara turun-temurun menghindari bulan Suro untuk menikahkan anak. Kita bisa membuktikan kejadian ini kepada penjual jasa, seperti penyewa alat-alat resepsi atau sejenisnya, mereka pasti akan mengatakan sepi order. Kalaupun seandainya disewa pasti untuk kegiatan lain seperti sunatan, kelahiran, atau kematian. Padahal bagi pemeluk agama Islam, dan mungkin juga pemeluk agama lain, bahwa semua hari dan bulan itu baik untuk melakukan kegiatan apapun termasuk menikahkan anak.

Hikayat Maheso Suro

Berbagai ritual dilakukan masyarakat Jawa dalam menyambut 1 Suro (Jawa : tanggap warsa). Salah satunya ritual yang digelar warga Samas, Desa Srigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul. Ritual selalu digelar tiap tahunnya untuk mengenang Maheso Suro yang dipercaya telah mendatangkan kemakmuran warga di pesisir pantai selatan tersebut.

Malam hari menyambut datangnya tanggal 1 Suro, halaman rumah mBah Jokasmo sesepuh setempat tampak dijejali warga setempat berbaur dengan pengalap berkah dari Jawa Tengah, Kabupaten Bantul sendiri, Yogyakarta dan kirab-maheso-surosekitarnya. Dengan sabar mereka menunggu mBah Jokasmo yang sedang bersemedi di dalam rumahnya. Menjelang tengah malam, mBah Jokasmo keluar dari kediamannya sambil sempoyongan sehingga harus dipapah kerabatnya. Selajutnya terdengar ucapan Mbah Jokasmo yang diyakini sebagai suatu ramalan bermakna peringatan. Bila anda bertanya kepada Mbah Jokasmo, beliau tidak ingat apa yang telah diucapkan tadi. Sebenarnya beliau hanya mediator Kanjeng Ratu Kidul yang menyampaikan pesan kepada kita. “Boleh percaya atau tidak percaya silahkan,” kata Sumarno kerabat Mbah Jokasmo. Usai ritual mbah Jokasmo memberikan ramalannya, biasanya dilanjutkan dengan prosesi Kirab Tumuruning Maheso Suro.

Dikisahkan oleh Sumarno, dahulu warga Samas dilanda paceklik, tanaman pertanian tidak bisa tumbuh subur. Warga desa selanjutnya memohon doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Beberapa waktu kemudian warga Samas dikejutkan dengan munculnya seekor kerbau. Kerbau berwarna hitam kelam itu, oleh perangkat desa kemudian ditangkap dan dipelihara bersama kerbau-kerbau lokal. Anehnya, setiap kali kerbau tiban itu merusak sawah ladang yang dilewatinya, tanaman di atas tanah-tanah itu justru tumbuh subur. Setelah beranak pinak, mahesa yang muncul pertama kali di Bulan Suro itu pun menghilang entah kemana. Karena itu, masyarakat Samas, Srigading selalu mengenang datangnya kerbau hitam itu dengan menggelar ritual Kirab Tumuruning Maheso Suro sejak tahun 1910.

Aneh memang, itulah kepercayaan ! Akankah masyarakat Jawa di masa mendatang akan lain lagi memaknai bulan Suro ? Jawabannya ada pada anak cucu kita sebagai generasi penerus.

Disadur dari situs : Seloka – Komunitas Seni Tradisi Indonesia, “SATU SURO TAHUN BARU JAWA”, http://seloka.uni.cc/index.php?topic=234.0 dan http://www.yanrf.com/blog/5/ritual-menyambut-1-suro-di-desa-srigading.

Untuk menggambarkan seberapa luas wilayah RW-IV Kelurahan Padangsari diperlukan peta wilayah. Peta yang dilengkapi dengan nama-nama jalan akan sangat membantu warga mengetahui alamat tetangga satu RW. Bagi orang lain yang ingin mengetahui alamat suatu daerah, peta wilayah ini juga sangat diperlukan. Dalam cakupan yang lebih luas, misal Kotamadya atau Propinsi atau bahkan negara, peta wilayah sangat membantu investor untuk menanamkan investasinya.

Nah, pada saat kami “pengelola website ini” surfing (mencari di internet) peta kecamatan Banyumanik melalui berbagai situs seperti misalnya :

apalagi secara detil peta Kelurahan Padangsari, tidak berhasil kami temukan. Menurut hemat kami peta wilayah ini sangat penting untuk menggambarkan luas wilayah cakupan RW-IV Padangsari, pembagian wilayah tiap-tiap RT (RT-01 s/d RT-09), rasio luas wilayah terhadap jumlah penduduk, statistik PBB, informasi alamat, serta pengembangan lainnya seperti misalnya pembagian Raskin; Bantuan Kompor Gas program Pemerintah; dan lain-lain.

Lalu apakah peta ini harus ada, kalau ternyata susah didapat. Ya… kami akan mencari alternatif informasi ke Kantor PBB Pusat, atau kalau terpaksa membuat sendiri. Download foto satelit melalui Google Earth sudah kami lakukan namun hasilnya kurang baik. Semoga proyek penggambaran peta wilayah ini, walaupun sederhana dapat memacu Kelurahan Padangsari; Kecamatan Banyumanik; Pemkot Semarang, atau bahkan Propinsi Jateng melakukan hal yang sama sehingga tercipta peta wilayah dalam format digital yang lengkap dan di-upload di internet.

Kabar gembira bagi ketua RT, ketua RW, dan ketua PKK di kota Salatiga. Sebab Pemkot Salatiga akan segera mencairkan insentif bagi RT, RW dan PKK mulai 9 Desember 2008 yang akan datang. Hal ini seperti diberitakan dalam Koran Suara Merdeka – Semarang Metro Kamis 27 November 2008.

Besar insentif untuk tiap RT dan RW masing-masing Rp. 1.000.000,- atau naik 100% dibanding tahun lalu yang hanya Rp. 500.000,-. Perinciannya adalah Rp. 300.000,- untuk administrasi, Rp. 200.000,- untuk administrasi dan operasional PKK, dan Rp. 500.000,- untuk insentif ketua RT atau ketua RW.

Tidak dijelaskan dalam berita tersebut apakah Pemkot Salatiga memberikan insentif tersebut per-tahun ataukah per-bulan. Jika per-bulan mari warga Salatiga segera mencalonkan menjadi ketua RT/RW. Bagaimana dengan daerah lain ?

Seperti diberitakan dalam Koran Suara Merdeka – Semarang Metro Kamis 27 November 2008 DPRD kota Semarang telah mengesahkan Perda RTH (Ruang Terbuka Hijau) pada Rabu, 26 November 2008. Perda RTH itu antara lain mengatur kewajiban setiap RT untuk memiliki taman minimal seluas 250 meter persegi dengan 10 pohon pelindung, luasan taman pada tingkat RW minimal 1.500 meter persegi dengan 20 pohon pelindung, sementara taman di tingkat kelurahan minimal seluas satu ha.

dsc01999Perda juga mengatur tentang penanaman pohon di rumah-rumah warga. Setiap rumah dengan luasan kaveling di bawah 120 meter persegi, minimal menyediakan 1 pohon pelindung. Sementara, rumah dengan luasan tanah 120-500 meter persegi harus menyediakan minimal 3 pohon dan di atas 500 meter persegi 5 pohon. Menurut ketua panitia khusus (Pansus) Raperda RTH yang juga anggota Komisi C DPRD, Agung Budi Margono, keberadaan Perda diharapkan bisa mengendalikan RTH yang dari tahun ke tahun semakin berkurang.

Keberadaan PERDA ini jelas nambahi beban tugas RT/RW selain untuk menyediakan lahan seluas yang diwajibkan juga membangun taman dan mengadakan sejumlah pohon pelindung yang dipersyaratkan. RT maupun RW itu kan merupakan tugas sosial kok ada kewajiban segala… Selama ini kalo soal taman RW IV kelurahan Padangsari hampir selalu tidak ada masalah, tapi bila harus menyediakan lahan seluas 1500 m2 dengan 10 pohon pelindung itu namanya mengada-ada. Penyediaan lahan dan dananya darimana ?

Dalam Perda tersebut memang tidak/belum diatur sangsinya bagi RT/RW maupun warga yang tidak mematuhi kewajiban tersebut. Mungkin ini cuma pendorong agar setiap warga membangun/memiliki taman dan bila kewajiban itu betul-betul dicanangkan Pemerintah Daerah Semarang seyogyanya menyediakan dana bagi warga untuk menyediakan lahan dan membangun tamannya. Semoga…

PT. Ami Jaya Mandiri Semarang adalah perusahaan baru yang bergerak di bidang jasa Teknologi Informasi (IT Service Provider) yang berlokasi di Jl. Taman Kawasan Industri I Bukit Semarang Baru Semarang. Perusahaan ini membutuhkan 600 orang yang akan dioperasionalkan bulan November – Desember 2008.Adapun persyaratan umum yang dibutuhkan sebagai Operator Komputer sebagai berikut :

a. Wanita usia 18 s/d 25 tahun
b. Pendidikan minimal lulusan SMK/SMA
c. Menguasai komputer (nilai tambah)

Disediakan fasilitas pelatihan dan transportasi. Bagi yang berminat silahkan menghubungi seksi Infokom RW-IV atau langsung ke RT masing-masing, karena ada form isian Daftar Riwayat Hidup yang bisa dicopy sesuai kebutuhan.

Sumber : Surat dari Kecamatan Banyumanik No. 560/507 tanggal 30 Oktober 2008.